RSS

Cerpen: “DREAM AND BELIEVE”



         Blitz-blitz kamera menyerangku dengan ganas, rasanya mataku sudah tidak bisa menahannnya. Aku mengambil kacamata di tasku dan langsung menggunakannya. Acara launching buku terbaruku kali ini benar-benar meriah dan spektakuler.

***

“Cinta itu tidak pernah mudah bagi orang yang selalu tersakiti”
            Hoaaahhhmm rasanya sendi tulangku sudah mulai karatan, badanku pegal sekali. Hm novel Raksasa Dari Jogja benar-benar menginspirasiku, Kak Dwitasari memang penulis novel yang top sekali. “Manda!” panggil seseorang mengagetkanku. “Ya” jawabku, “Oh Hani, aku kira siapa” lanjutku. “Ya ampun kamu benar-benar Novel Holic, tak habis pikir, buku sebanyak ini bisa kamu baca satu hari?” ucap Hani sembari menghitung jumlah novel di mejaku. “Ah udahlah jangan banyak komentar, kantin yu” ajak ku sambil memainkan handphone. “Traktir oke?” tanya Hani mengerlingkan matanya. Aku tidak menjawab namun langsung ku gandeng tangan Hani dan menyeretnya menuju kantin.
            Seperti yang Hani bilang, aku memang novel holic, novel setebal dan sekuno apapun pasti bisa aku baca. Aku bukan pemilih dalam membaca novel, aku selalu menikmati bacaanku dan tidak pernah merasa bosan. Bahkan aku pernah memborong sampai belasan novel tahun 80-an saat ada bazaar buku di dekat rumah. Terkadang orang yang ada disekelilingku merasa heran dan ada pula yang berdecak kagum dengan hobiku ini. Entah mengapa, dengan membaca novel aku bisa menemukan duniaku dan aku jadi banyak belajar tentang kehidupan dari semua novel yang pernah aku baca. Semua novel yang ada di perpustakaan sekolah sudah ku baca dan catatan ku di perpustakaan sampai berlembar-lembar. Seharusnya aku mendapatkan pernghargaan sebagai murid yang paling rajin membaca hehe.
            “Manda, coba deh kamu buat novel, masa cuma bisa bacanya aja” celetuk Hani. Aku hanya diam dan terus memakan bakso dengan gaharnya. “WOY” ucap Hani sedikit menyentak. Aku hanya memandangnya dan langsung memasang tampang malas. “Oh Tuhan kapan sih kamu bisa buat satu karya saja? Kamu akan tetap seperti ini? Selamanya Man?” tanya Hani terheran-heran.
            Bukan gitu Hani, kamu tidak mengerti. Ah rasanya sulit menjelaskan dengan ucapan, aku hanya bisa menjawabnya dengan hati. Aku terlalu takut, aku takut. Sudah banyak novel best seller yang aku baca dan aku tidak mungkin bisa menandingi untuk saat ini. Aku masih harus belajar agar bisa langsung menuju puncak. Apabila aku membicarakan alasan ini, dia pasti akan menertawaiku dan meledekku. Biarlah dia menerka-nerka, dia tidak tau saja, sekarang aku sedang belajar dan banyak berlatih agar bisa membuat novel best seller seperti JK. Rowling atau lokalnya Andrea Hirata.
            “Suatu saat Han, suatu saat aku akan membuat novel dan novel ku laris di pasaran. Novel ku akan menjadi novel best seller di seluruh dunia seperti Harry Potter. Novel ku akan menjadi skenario film paling mahal dan mendapatkan banyak penghargaan. Aku akan menjadi penulis novel paling kaya dan tenar. Tunggu semua itu terjadi, asalkan beri aku kesempatan untuk menggapai itu semua” ucapku serius. Tiba-tiba hening dan… “Hahahahahaha” Hani menertawaiku sembari bergumam tidak karuan. Arg menyesal sekali aku memberi tau impianku padanya. Aku berdiri dari kursi kantin dan langsung meninggalkannya dengan tampangku yang masam. “Manda!!” teriak Hani memanggilku, dia mengejarku. “Manda” tiba-tiba Hani sudah ada di hadapanku dengan nafasnya yang tidak teratur. Aku hanya menatapnya dan langsung berlalu meninggalkannya. “Manda! Maafin aku. Maaf aku telah menertawakanmu. Maaf, bukan maksudku seperti itu. Ayolah, masa kamu sesensitif ini” ucap Hani sambil berlari mengejarku. Aku terdiam dan membalik badanku lalu memeluk Hani. “Kamu percaya dengan impianku ini?” tanyaku dalam pelukan. Hani mengangguk “aku yakin kamu bisa menjadi penulis hebat!”
            Semenjak itu, aku menjadi tidak takut untuk mencoba lebih dini. Namun sayangnya, kemampuan menulisku tidak secerdas kemampuan membacaku. Setiap hari aku terus berkutat dengan Microsoft word dan terus memompa otakku yang kecil ini. Aku tidak pernah putus asa, aku terus mengetik, mengetik, mengetik dan akhirnya novelku selesai. Rasanya seperti bisul pecah, plong sekali setelah tau novelku telah selesai. Namun, tidak sampai sini. Aku masih harus memasarkan novelku ke penerbit dan berharap ada penerbit yang mau menerima.
            Keesokan harinya saat aku pulang sekolah, aku menyempatkan pergi ke Gramedia untuk membeli novel sebagai teman malamku. Tidak disangka, aku bertemu dengan Kak Andrea Hirata yang kebetulan sedang sama-sama membeli novel dan kebetulannya novel yang sama pula. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan yang langka ini. “Hai Kak” sapaku agak canggung. “Hai. Siapa ini?” tanya Kak Andrea sambil menjabat tanganku. “Aku Amanda kak, eh aku punya banyak novel kakak dari yang pertama sampai yang baru kemarin di launching” ucapku semangat. “Waw aku sangat tersanjung mendengarnya” ujar Kak Andrea sambil tersenyum. Aku terdiam kikuk dan bingung harus berbicara apa. “Amanda” ucap Kak Andrea membuyarkan lamunanku. “Oh iya kak, aku baru saja menyelesaikan novelku. Mau baca?” ujarku spontan, rasanya bodoh sekali berbicara seperti itu. “Wah boleh tuh, kamu bawa?” tanya Kak Andrea sangat respontif. Aku mengangguk kecil dan memberikan flashdisk unguku. “Novelnya disini kak, belum aku print out, bawa aja flashdisknya biar kita bisa bertemu lagi dan jangan lupa di beri komentar ya Kak” ucapku semangat. Kak Andrea mengangguk dan kami saling bertukar nomor handphone.
            Satu minggu kemudian….
            “Ya hallo?” aku menjawab panggilan telepon yang masuk ke handphoneku. “Ini benar dengan Mbak Amanda?” tanya seseorang disebrang telepon. “Iya betul, maaf ini dengan siapa?” tanyaku. “Ini dengan Penerbit Aura, kami telah menerima novel Mbak dan besok akan kami cetak. Mungkin besok Mbak Amanda bisa datang ke kantor kami untuk menandatangani MoU” ucapnya. Rasanya aku lemas sekali. “Maaf sebelumnya, siapa yang telah mengirimkan novelku?” tanyaku heran sekaligus bahagia. “Oh iya Mas Andrea yang mengirimnya” seharusnya aku tau, bahwa Kak Andrea yang mengirimnya. Aku kan hanya memberikan salinan novelku ke dia. Alhamdulillah, akhirnya novel pertamaku bisa di cetak, dan penerbitnya adalah penerbit buku nomor 1 di Indonesia. Senang sekali, mimpiku menjadi nyata. Seperti yang Agnes Monica bilang “dream and believe” bermimpi dan percayalah mimpimu bisa menjadi nyata.

***

            “Ya baiklah terimakasih kepada teman-teman wartawan yang telah menyempatkan hadir di peluncuran novel saya yang ke-5. Seperti novel saya yang sebelumnya, Insyaalloh novel ini akan diangkat juga ke layar lebar oleh sutradara kondang kita Hanung Bramantyo. Saya benar-benar terharu dengan apresiasi pembaca di Indonesia yang sudah membeli dan membaca buku saya sehingga menjadi Best Seller. Terimakasih” dream and believe, tidak ada yang tidak mungkin untuk kamu dan aku meraih mimpi.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar