Malam itu di sebuah kedai kopi, aku duduk termenung sendiri meratapi hatiku yang entah mengapa—selalu gelisah. Mungkin akibat ketidak percayaanku terhadap Ares, pacarku. Sudah beberapa minggu ini, dia tiba-tiba sibuk dengan dunianya, sampai aku harus merengek untuk minta perhatian darinya. Ternyata, rengekan ku itu menjadi masalah besar, dia kesal dengan ulahku.
Aku menghela nafas setelah menyesap secangkir cappucino yang mendingin. Tiba-tiba teringat ucapan salah satu kawan ku. Ketika itu kami sedang duduk di koridor kampus.
"Kenapa?"
"Apanya?"
"Kau terlihat sedih"
"Aku sedang tidak enak badan"
"Ada apa dengan Ares?"
"Bukan Ares"
"Jangan bohong"
Aku terdiam, lalu ku ceritakan semua beban yang menghimpit hatiku. Dia mendengarkan dengan seksama, sedangkan aku mulai meneteskan air mata. Kenapa rasanya sangat sakit sekali.
Dia mengusap pundak ku, berusaha menenangkan aku.
"Sudahlah, ujian itu memang selalu ada, sebelumnya kalian memang sering di uji kan? Dan kau tau? Setiap kita akan naik kelas, pasti selalu diuji, begitupun cinta"
Aku tertegun, mencoba menyerap semua perkataannya. Dia tersenyum.
"Fiza, cinta itu layaknya kehidupan, ada saatnya ketika kalian dibawah dan pasti ada saatnya ketika kalian diatas"
Aku mengangguk, dia berbicara kembali.
"Ketika dibawah, genggamlah tangannya dengan erat, sesulit apapun, jangan sampai kau lepas"
Angin sore berhembus pelan, kawanku itu terus berbicara sampai senja muncul di ufuk barat.
"Menuju ke tempat teratas itu harus menaiki tangga, dan sangat melelahkan, kau harus menjadi orang yang selalu ada di sampingnya, menyeka keringatnya, menemaninya, bukan merengek kepadanya. Berjuang tidak sebercanda itu, Za"
Air mata semakin mengalir, keluar tak henti-henti dari pelupuk mataku. Sekarang aku tau, aku hanya harus mendukungnya, apapun yang terjadi, aku tidak boleh merengek. Ketika dia lelah, tempat ternyaman untuk pulang adalah rumah, dan aku harus menjadi rumah baginya.
Cappucino di cangkirku sudah habis, malam pun semakin larut. Semakin malam, kedai kopi ini semakin ramai, mungkin karena kopi adalah kawan terbaik untuk menyambut malam.
Tiba-tiba seseorang menyentuh pundak ku. Aku ingin menangis, wangi parfumnya menyeruak kedasar hatiku, aku tau, dia akan datang.
"Maaf sayang, aku telat"
Hatiku membuncah. Ah persetan dengan pengunjung kedai, aku langsung saja memeluknya, menghirup wangi parfumnya. Res, aku rindu.
Cangkir kedua cappucino ku datang bersama secangkir espresso milik Ares.
"Ku kira kau tidak akan datang, aku hampir putus asa"
"Aku sudah janji kan padamu, aku pasti akan datang, sesibuk apapun, aku akan menyempatkan waktuku untukmu"
Aku tersenyum, genangan air mata diujung mataku di hapus olehnya. Dia tersenyum sambil berkata lirih, "jangan menangis".
"Aku tidak menangis, aku bahagia, kau ada disini bersamaku"
"Akupun bahagia Fiza, aku sangat rindu padamu"
"Aku tidak rindu, tapi kau tau? Hatiku sesak setiap memikirkanmu, sepanjang malam aku menangis ingin berjumpa denganmu"
Ares mengusap kedua pipiku, air mata tak bisa ku tahan lagi.
"Maafkan aku Za, aku memang sangat sibuk, tapi asal kau tau, setiap detik aku selalu memikirkan kamu, kamu sudah memiliki tempat sendiri di pikiran dan hatiku"
Aku mengangguk mendengarnya, Ares tersenyum kembali.
"Jangan sedih ya, jangan menangis, malam ini aku untukmu"
Tanpa berpikir panjang, aku langsung memeluknya lagi.
"Aku sayang kamu Fiza, sabar ya, sesibuk apapun aku, kau harus tetap sabar, percayalah semua akan indah pada waktunya"
Aku mengangguk, terpejam di pelukannya, tak mau lagi melepasnya pergi.
"Akupun sayang kamu, apapun yang terjadi, aku akan tetap disampingmu"
Ares mengangguk lalu mengecup keningku, hangat.
Cerpen: Kedai Kopi
Rabu, November 04, 2015 |
Label:
Cerpen
Langganan:
Posting Komentar (Atom)







0 komentar:
Posting Komentar