RSS

Cerpen: Patrikor

From: Ares
Aku di depan kelas kamu nih

To: Ares
Aw tumben, tunggu ya aku bentar lagi keluar

From: Ares
Ok

Bulir-bulir air hujan di kaca jendela kelasku seperti melambat. Air yang merambat di kaca layaknya ular yang merayap di atas kerikil. Merayap lama-lama-lama-kesakitan. Ah! Lama sekali kelasku ini, aku ingin cepat keluar.

"Fiza" temanku memanggil dari pintu kelas, sedangkan aku sedang repot dengan dokumen-dokumen BEM yang sedang ku rapihkan dalam totebag.

"Ya Kih, ada apa?"

"Cowok lo tuh kasian, mojok"

Mojok? Oh ya, Ares sedang menungguku.

"Sama siapa?"

"Sendirian"

Oh my God. Ini sudah pukul setengah enam sore. Hujan sedang sangat deras. Diluar pun sangat gelap sekali dan sepi. Lalu Ares-ku, si cowok super sibuk itu sedang mojok sendiri diluar. Tidak masuk akal.

Ares itu, tidak mungkin sendirian. Aku sudah mengenalnya selama dua tahun. Dia paling tidak, akan ditemani oleh satu orang temannya. Tapi ini, tanpa ku suruh, dia menungguku diluar kelas, dengan keadaan cuaca yang sedang hujan dan gelap.

Saat ku lihat keluar, benar saja, dia sedang duduk sendirian di ujung koridor. Mojok. Iya mojok. Ah Ares.

"Res, kenapa sendirian?"

"Eh sayang, iya nih"

"Duh kasian" ku usap rambutnya yang sedikit basah, akibat kehujanan, sepertinya. Bajunya juga agak terasa lembab. Dia memang kehujanan.

"Kamu mau kemana Za?"

"Aku ada rapat, kamu?"

"Kamu ada rapat? Yah, yasudah, aku mau kumpul komunitas deh"

"Eh, aku bisa bolos kok" rasanya, aku ingin pergi saja bersama Ares, kemana aja, terserah. Hujan pun, tak apa, asal bersamanya.

"Udah, kamu rapat aku kumpul komunitas, ya?"

"Iya deh"

Dia memang selalu saja punya acara, akupun heran saat tau dia di depan kelasku. Bukannya kumpul sama komunitas atau kesibukannya.

Saat di gerbang gedung perkuliahan, aku dan Ares terdiam. Ku mainkan tanganku diantara hujan yang deras. Ares merangkul bahuku lalu menggenggam tanganku yang ku mainkan.

"Kamu bawa payung nggak?" ucap Ares sambil semakin mengencangkan rangkulannya.

"Bawa, mau pakai payung?"

"Iya ayo, nanti kita telat"

Ku keluarkan payung dari dalam tas. Ares membuka payung tersebut lalu dia menggenggam tanganku. Akhirnya kami berjalan diatas rintik hujan. Sepanjang jalan, Ares merangkul bahuku. Dia tinggalkan motornya diparkiran gedung perkuliahan, memilih untuk memakai payung ke gedung pusat kegiatan mahasiswa.

Entahlah. Sore itu, aku merasa bahagia. Kami berjalan diatas cipratan air hujan. Tangannya terus merangkul bahuku, seperti aku ini bisa terbang, dirangkul sangat erat. Wangi parfumnya sangat dekat dengan penciumanku, ah nyaman. Aku sangat suka wangi parfumnya.

Basah di celana dan tasku sudah tidak ku hiraukan. Tak peduli dengan urusan lain, urusanku sekarang ya Ares. Ares sedang bersamaku, merangkulku, di sore itu. Sore yang tak akan ku lupakan. Dimana patrikor menjadi saksinya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Cerpen: Kedai Kopi

Malam itu di sebuah kedai kopi, aku duduk termenung sendiri meratapi hatiku yang entah mengapa—selalu gelisah. Mungkin akibat ketidak percayaanku terhadap Ares, pacarku. Sudah beberapa minggu ini, dia tiba-tiba sibuk dengan dunianya, sampai aku harus merengek untuk minta perhatian darinya. Ternyata, rengekan ku itu menjadi masalah besar, dia kesal dengan ulahku.

Aku menghela nafas setelah menyesap secangkir cappucino yang mendingin. Tiba-tiba teringat ucapan salah satu kawan ku. Ketika itu kami sedang duduk di koridor kampus.

"Kenapa?"

"Apanya?"

"Kau terlihat sedih"

"Aku sedang tidak enak badan"

"Ada apa dengan Ares?"

"Bukan Ares"

"Jangan bohong"

Aku terdiam, lalu ku ceritakan semua beban yang menghimpit hatiku. Dia mendengarkan dengan seksama, sedangkan aku mulai meneteskan air mata. Kenapa rasanya sangat sakit sekali.

Dia mengusap pundak ku, berusaha menenangkan aku.

"Sudahlah, ujian itu memang selalu ada, sebelumnya kalian memang sering di uji kan? Dan kau tau? Setiap kita akan naik kelas, pasti selalu diuji, begitupun cinta"

Aku tertegun, mencoba menyerap semua perkataannya. Dia tersenyum.

"Fiza, cinta itu layaknya kehidupan, ada saatnya ketika kalian dibawah dan pasti ada saatnya ketika kalian diatas"

Aku mengangguk, dia berbicara kembali.

"Ketika dibawah, genggamlah tangannya dengan erat, sesulit apapun, jangan sampai kau lepas"

Angin sore berhembus pelan, kawanku itu terus berbicara sampai senja muncul di ufuk barat.

"Menuju ke tempat teratas itu harus menaiki tangga, dan sangat melelahkan, kau harus menjadi orang yang selalu ada di sampingnya, menyeka keringatnya, menemaninya, bukan merengek kepadanya. Berjuang tidak sebercanda itu, Za"

Air mata semakin mengalir, keluar tak henti-henti dari pelupuk mataku. Sekarang aku tau, aku hanya harus mendukungnya, apapun yang terjadi, aku tidak boleh merengek. Ketika dia lelah, tempat ternyaman untuk pulang adalah rumah, dan aku harus menjadi rumah baginya.

Cappucino di cangkirku sudah habis, malam pun semakin larut. Semakin malam, kedai kopi ini semakin ramai, mungkin karena kopi adalah kawan terbaik untuk menyambut malam.

Tiba-tiba seseorang menyentuh pundak ku. Aku ingin menangis, wangi parfumnya menyeruak kedasar hatiku, aku tau, dia akan datang.

"Maaf sayang, aku telat"

Hatiku membuncah. Ah persetan dengan pengunjung kedai, aku langsung saja memeluknya, menghirup wangi parfumnya. Res, aku rindu.

Cangkir kedua cappucino ku datang bersama secangkir espresso milik Ares.

"Ku kira kau tidak akan datang, aku hampir putus asa"

"Aku sudah janji kan padamu, aku pasti akan datang, sesibuk apapun, aku akan menyempatkan waktuku untukmu"

Aku tersenyum, genangan air mata diujung mataku di hapus olehnya. Dia tersenyum sambil berkata lirih, "jangan menangis".

"Aku tidak menangis, aku bahagia, kau ada disini bersamaku"

"Akupun bahagia Fiza, aku sangat rindu padamu"

"Aku tidak rindu, tapi kau tau? Hatiku sesak setiap memikirkanmu, sepanjang malam aku menangis ingin berjumpa denganmu"

Ares mengusap kedua pipiku, air mata tak bisa ku tahan lagi.

"Maafkan aku Za, aku memang sangat sibuk, tapi asal kau tau, setiap detik aku selalu memikirkan kamu, kamu sudah memiliki tempat sendiri di pikiran dan hatiku"

Aku mengangguk mendengarnya, Ares tersenyum kembali.

"Jangan sedih ya, jangan menangis, malam ini aku untukmu"

Tanpa berpikir panjang, aku langsung memeluknya lagi.

"Aku sayang kamu Fiza, sabar ya, sesibuk apapun aku, kau harus tetap sabar, percayalah semua akan indah pada waktunya"

Aku mengangguk, terpejam di pelukannya, tak mau lagi melepasnya pergi.

"Akupun sayang kamu, apapun yang terjadi, aku akan tetap disampingmu"

Ares mengangguk lalu mengecup keningku, hangat.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Hai!

Halo fellas! Udah lama banget, nggak tau kapan, nggak inget kapan, terakhir update blog.

Waaaaa gue lagi sibuk anet (red: banget, ya!). Sekarang kan gue udah semester 5, uuuuh. Perasaan baru kemaren deh update mau pindah ke kosan baru. Waktu cepet banget berlalu ya. Hm.

Kadang gue sedih aja, kok gue cepet banget tua ya. Mau jadi apa nanti kalo udah lulus. Eh mikirin cara lulusnya aja udah pusing. Tapi nanti kalo udah lulus harus ngapain? Kerja apa? Atau nikah aja?

Hidup tuh kalo dipikirin emang r-i-b-e-t bgt uh. Kepikiran nyari kerja, kepikiran orangtua di kampung yg nunggu anaknya sukses, kepikiran masa depan gue. Aduh.

Kayanya cuma tinggal jalanin aja deh ah sekarang. Gausah mikirin macem-macem dulu. Nikmatin aja prosesnya, tetep hidup teratur, jangan ragu nyoba hal baru, terus nyari temen yang banyak (buat ngebangun link, hihi), tetap konsisten biar sukses (pesen bapa'), dan harus selalu jujur, jugaaa, jangan lupa berdoa, yes! Serahkan semuanya ke Allah. Amin.

Postingan sekarang segini dulu deh. Semoga gue nggak lupa buat tetep update blog hehehe.

Kalo susah nyari gue.

Silahkan kunjungi aja feed atau sosmed gue yang lain ya *ketjup*

Instagram: nadilaeldia
Twitter: nadilaeldia
Periscope: nadilaeldia
Line: nadeldia
Tumblr: nadilaxoxo.tumblr.com
Wattpad: xsunflowx

💋💋💋💋💋💋💋

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS